Budilisnt's Blog

POLA FILSAFAT ABU BAKAR ZAKARIA AL ROZI

Posted on: Maret 30, 2010

POLA FILSAFAT ABU BAKAR ZAKARIA AL ROZI

  1. A. BIOGRAFI ALROZI

Nama lengkapnya adalah abu bakar Muhammad ibn zakaria al rozi di lahirkan di Ray (Teheran) pada bulan syaban tahun 250 H/ 864 M. semasa kecil beliau belajar kedokteran kepada Ali bin Raban athabari dan  ilmu filsafatnya kepada Al balkhi.

Al rozi merupakan seorang yang ahli dalam bidang kedokteran dan kimia, bahkan kepintarannya telah teruji sewaktu pemilihan tempat untuk mendirikan  rumah sakit bagdad dengan menggunakan media daging sebagai alat untuk mendeteksi tempat yang seteril dari kuman. Pada masa kerjanya al rozi merukan seorang dokter yang berhati mulia dan ramah, dan tak jarang al rozi memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat  di wilayah ray. Kemudian karena kebesaran nama  yang  terdengar kepada teling khalifah maka Al rozi diangkat menjadi  kepala rumahsakit yang ada di bagdad selama enam tahun.  Dan setelah berakhir  mengabdikan diri sepenuhnya di rumahsakit bagdad kemudian beliau pulang kembali kedaerah asalnya yaitu ray, di sana beliau mengajar di mesjid   yang di sebut dengan halaqoh. Selain mengajar  beliau juga menulis dan mengkaji kitab-kitab , menurut ibnu Nadhim, al rozi telah mengarang bukunya sebanyak 232, yang mayoritas karyanya yaitu mengenai kedokteran, ilmu yang berhubungan dengan logika, fisika, metafisika, ketuhanan,  ilmu mata,  biologi, kimia dan arsitektur.

Karya-karya yang terkenal dari al rozi adalah

  1. al asrar yang mengupas tentang  bidang kimia yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa latin oleh geard of cremon.
  2. Al hawi, ensiklopedi kedokteran yang masih di pakai sampai abd ke 16 di eropa.
  3. Al mansyuri liber al mansori, mengenai doktrin kedokteran
  4. Al jidar wa al hasbah, analisis penyakit cacar dan campak.
  5. Al  tibb al ruhani, pemikiran komprehensip fisafat.
  6. Sirah al falsyafiah, karangan soal sejarah filsafat.
  7. Amarah aqbal al daulah
  8. Kitab al ladzah
  9. Kitab ilmu ilahi

10. Maqolah pima ba’da.

  1. PEMIKIRAN AL RIZI

Al rozi merupakan seorang ahli filsafat yang rasional murni, ini di latar belakangi oleh keahlianya dalam bidang kedokteran , memerlukan pemikiran yang rasional dalam menangani berbagai penyakit sehingga pola pemikiran dari al rozi  lebih mengedepankan akal pikian ketimbang wahyu. Seperti yang tertuang dalam pengantar kitab atthib aruhani al Rozi menulis sebagai  berikut;

“ tuhan segala puji baginya yang telah memberikan kita akal agar denganya kita dapat memperolehsebanyak-banyaknya manfaat, inilah karunia terbaik tuhan kepada kitadengan akal kita melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik, dengan akal kita dapat mengeahui, yang gelap, yang jauh, dan yang tersembunyi dari kita. Dengan akalpula, kita memperoleh pengetahuan tentang  tuhan  satu pengetahuan  tertinggi yang kita peroleh.”

Dalam hal ini Al Rozi berkeyakinan bahwa akal  merupakan alat penentu, puat pengendali, dan pemberi perintah kepada manusia untuk berbuat baik. Al rozi memiliki kecenderungan empiric untuk memahami seluruh aspek filsafat, study penelitian kedokteran dapat  membantu  Al Rozi dalam menentukan methode  yang kuat untuk dijadikan pondas,i demikian filsapat secara menyeluruh.

Dalam hal ini Al Rozi mengklaim bahwa kedokteran bersandar kepada pilsafat dengan asumsi, praktik yang baik hanya akan lahir dari pemikiran bebas, tidak hanya disiplin kedokteran. Filsafat Al rozi merupakan cerminkan  Ariestoteles. Hal ini dapat dilihat dari karyanya yang menyatakan tentang jiwa sebagai subtansi dan akal sebagai piranti jiwa  seperti yang telah di lontarkanya. Bahkan al rozi juga sebagai orang yang menentang terhadap filsafat umat islam awal, menurutnya , untuk menjadi seorang ahli filsafat tidak harus masuk kedalam sebuah sekte atau mazhab tertentu, dan tidak perlu berlebihan dalam mencontoh tindakan atau gagasan si pemimpin sekte atau madzhab.dalam artian al rozi membuang jauh-jauh  sakralisme filsafat. Menurutnya lagi seoraang boleh belajar terhadap orang pendahulunya dan bukan berarti ia tidak bisa melampaui gurunya,  itulah pandangan Al rozi dalam memahami kebebasan dalam berpikir yang mempunyai tempat sangat luas.

Al rozi berkeyakinan bahwa setiap filosof dari berbagai aliran dan ragam pemikiran merupakan orang yang kreatif aktiv, dan giat dalam melakukan   ijtihad. Kajian fisafat merupakan permasalahan yang sangat pelik. Seperti para pengkritik filsafat sebelumnya  dan sesudahnya  al rozi menilai bahwa perselisihan dalam filsafat bukan merupakan tempat ideal  untuk berseminya ilmu pengetahuan, perselisihan merupakan sebuah skandal  yang menunjukan nihilitas tanggung jawab intelektual.  Atas dasar inilah al rozi memilih kebebasan dalam berpikir sebagai jalan pengetahuanya  dari pada consensus, pemikiran bebas di jadikan sebagai kunci untuk pembebasan jiwa. Meskipun pemikiran bebas tidak mustahil namun terasa sulit untuk mencapai pada konflik final. Jadi al rozi beranggapan bahwa manusia tidak membutuhkan pemimpin atau pembibing dalam menunjukan jalan hidupnya.dan saat di Tanya mengenai imam dalam kasus agama wahyu Al rizi menjawab; bagai mana  mungkin seseorang dapat berpikir secara filsafat  islam, sedangan ia mengikatkan diri kepada cerita-cerita kuno yang di tetapkan atas dasar kontradiksi, kebodohan  yang membandel dan dogmatis.

  1. METAFISIKA AL ROZI

Pola pemikiran al rozi mengenai pemahaman metafisikan saat ini masih kontoversi dan menjadi perdebat para ahli filsafat , seperti karyanya berjudul fi ma ba’da thabi’ah merupakan karya yang tersusun dari tisa pokok utama ;

  1. Pembahasan alam
  2. Pembahasan janin
  3. Pembahasa kekekalan gerak.

Dalam karyanya itu al rozi menolak terhadap pendapat yang menyebutkan bahwa alam ini merupakan subjek utama dalam perinsip gerak. Metafisika yang di gagas oleh Al rozi di dasarkan kepada lima perkara yang immortal. Keyakinan ini di kenal dengan “ lima kekal “. Menurut al rozi ada lima perkara yang tidak akan musnah yaitu;

  1. Allah ta’ala
  2. Jiwa universal
  3. Materi pertama
  4. Ruang absolute
  5. Masa absolute

Dalam pandangan dan keyakinan Al rozi  dua perkara  yang kekal dan pertama hidup dan aktip. Perkara ke tiga tidak hidup dan pasif, dua berikutnya tidak hidup dan tidak aktif. Dalam bidang waktu al rozi tidak menyamakan dengan keberlangsungan, menurutnya waktu bisa saja terperangkap dalam angka yang menyebabkan waktu menjadi berawal dan tidak pula berakhir. Sedangkan keberlangsungan ( dahr ) tidak berawal dan tidak pula berahir. Imortalitas masa mengandaikan juga immortalitas ruang tempat peristiwa di selenggarakan.

Tentang ketuhanan,  al rozi meyakini bahwa kesempurnaan  dan kebijaksanaan tiada ragu baginya. Al rozi mengatakan bahwa tuhan  adalah pencipta sekaligus  pengatur segala alam , jika tuhan berkehendak maka tiada yang mampu untuk menolakya. Kesempurnaan tuhan meliputi universal dan particular. Berdasrkan ilmunya yang tak terbatas tuhan mengetahui bahwa ruh membutuhkan kesenangan ragawi. Atas dasar ini tuhan merestui hubungan antara ruh dengan materi dan mengatur oleh  hubungan yang berpotensi mengarah kesempurnaan.

Dalam penciptaan alam al rozi berpendapat bahwa alam ini  diciptkan bukan dari benda yang tidak ada tetapi dari materi yang sudah ada kemudian di susun menjadi benda yang di sebut dengan alam. Walau pun demikian al rozi tidak mengelompokan alam keadam hal yang tidak akan musnah.  perkara ke dua yang immortal adalah jiwa yang universal, menurut al rozi bahwa setiap benda baik yang bergerak maupun yag tidak bergerak semunya itu memiliki jiwa.  Jiwa yang telah bersatu dengan materi sehingga tidak akan abadi, ketika tuhan mempersatukan jiwa dan materi kemudian tuhan menciptakan pula akal, agar jiwa tidak selamanya berada  dalam tekanan ragawi. Menurut al rozi , tuhan menciptakan akal supaya tidak terperangkap dalam keserakahan. Lebih rinci al rozi menilai bahwa tuhan menciptakan akal untuk menyandarkan jiwa yang terlena dalam raga manusia. Akal berupaya memaksimalkan mungkin meyakikan jiwa bahwa raga bukanlah tempat yang sebenarnya bukan tempat kebahagiaan dan keabadian. Kesenangan dan kebahagiaan hakiki justru hanya dapat di capai dengan meninggalkan tuntutan raga.

Dalam bahasan mengenai materi pertama  ( al hayu al Ula ) adalah subtansi dari atom-atom, tiap atom mempunyai volume yan beraneka, volum berpungsi sebagai pengpul atom-atomdalam perumusan bentu-bentuk. Atom-atom akan kembali berpencar dan kembali pada atom semua tatkala ala mini hancur, dan atom ini akan kekal . untuk argument ini al rozi berpegang kepada dua argument , yang  pertama”  penciptaan alam merupakan bukti kekekalan materi” ke dua” materi di katakana kekal karena sebelumnya  prinsip penciptan alam dari ketiadaan sudah ditinggalkan oleh al rozi”

Mengenai ruang al rozi membagi ruang kedalam dua kelompok besar, ruang universal dan ruang particular, ruang pertama di pahami sebagai ruang mutlak yang tidak berhubungan dengan wujud apapun dan tidak di batasi apapun. Sementara ruang partikuar merupakan ruang nisbi yang senantiasa berhubungan dengan wujud lain yang menempatinya. Ruang ini kan terbatas karena yang menempatinya, tidak semua wujud  memerlukan ruang untuk eksis, maka dari itu al rozi juga percaya kepada keberadaan ruang hampa.

Sedangkan pembaghasan mengenai masa absoulut  masa dipahami sebagai subtansi yang mengalir dan  bersipat kekal. Seperti halnya dalam ruang, al rozi membagi masa dalam dua bagian , yaitu  masa Mutlak ( al dahr ) dan masa relatip,  masa yang mutlak yaitu masa dimana tidak ada awalnya dan tidak berakhir dan bersifat universal. Kekekalan masa ini merupakan konsekwensi dari kekekalan materi, karena materi akan mengalami perubahanya yang memerlukan  masa, maka masa harus kekal.

Tentang jiwa al rozi berpendapat sama denga plato yang berpandangan jiwa dalam diri manusia memiliki tiga elemen yaitu’: bersifat rasionaldan ilahiyah, yang bersifat emosional-kebinaangan, dan dan bersipat vegetative dan penuh sahwat.

  1. KENABIAN DALAM PEMIKIRAN AL ROZI

Al rozi meropakan filosof yang rasionalis murni dan mengandalkan akal pikiran sepenuhnya. Al rozi beranggapan bahwa tuhan telah memberikan anugrah kepada manusia dengan memberikan akal  pikiran, menurut al rozi manusia dengan akalnya dapat mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk sehinga menurut al rozi  peranan nabi tidaklah di perlukan karena akal telah mewakili dari semuanya itu.

Dalam karyanya Naqd al adyan au fi al nubuwah ( kritik-kritik terhadap agama-agama atau kenabian ) al rozi menyatakan bahwa para nabi tidak pantas untuk mengklaim sebagai orang pilihan tuhan yang mempunyai  kelebihan istimewa khusus, baik dari segi kemampuan berpikir maupun dari kecerdasa rohani.  Menurut al rozi semua manusia itu sama, keadilan tuhan serta hikmahnya mengharuskan manusia untuk tiak membeda-bedakan antar manusia.

Berkaca dari perjalanan sejarah kenabian , al rozi melihat bahwa seorang nabi hanya di percaya oleh pengikutnya sendiri dan tidak dianggap oleh umat lain.  Tidak sedikit pula terjadi konflik social yang berasal dari fanatisme para pengikut atas nabi mereka. Al rozi menilai bahwa keberlangsungan agama bukanlah karena keampuhan kenabian melainkan karena tradisi para pengikut dan kepentingan para pemimpin agama yang diperalat oleh agama dan ritual-ritual yang menyilauan mata pengikut-pengikut yang  bodoh.

Alasan yang digunakan al rozi dalam penolakan kenabian adalah sebagai berikut;

  1. Akal dengan segenap kemampuannya sudah cukup memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk yang berguna dan yang tidak berguna.
  2. Akal menolak pengistimewaan seseorang untuk membimbing yang lain dengan alasan semua orang lahir dengan kecerdasan yang sama. Jika kemudian muncul  perbedaan itu hanya karena perkembangan dan pendidikan dan bukan karena pembawaan alamiah.
  3. Para nabi tidak lepas dari pertentangan, jika benar bahwa mereka adalah lisan yang berbicara atas nama tuhan yang sama, mengapa masih terdapat pertentangan di antara mereka.

Selain tema kenabian al rozi juga mengomentri tentang keberadaan kitab suci agama. Seperti injil dan al qur’an. Terhadap Al qur’an Al rozi menolak adanya mukjizat didalamnya baik isi maupun gaya bahasanya.  Menurut al rozi manusia juga bisa menulis kitab seperti injil dan al qur’a yang lebih baik isinya  dan gaya bahasanya lebih indah. Imbas dari penolakan tersebut maka al rozi lebih menghargai terhadap kitab-kitab ilmu pengetahuan seperti,  buku kedokteran, geometri, astronomi dan logika. Dan para penulis ini telah mampu menemukan hal tersebut tanpa bantuan dan bimbingan para nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: